Rabu, 30 Januari 2013

Ercoli (ITA) and Nunez (ESP) reach highest podium in Rosario


OPEN WATER INDONESIA - Lausanne (SUI), January 28, 2013 – Rosario, in Argentina, welcomed 32 swimmers from 11 countries for the inaugural race of the FINA Open Water Swimming Grand Prix 2013 on Sunday January 27.

In the 15km event, Italy’s Simone Ercoli emerged from a competitive field to win the race in a 1h51m03s effort. His compatriot Mario Sanzullo took silver in 1h51m08s20, finishing ahead of home favourite Guillermo Bertola, who clocked 1h51m08s76.

Among women, the podium was exclusively European with Spain’s Esther Nunez registering a clean win over main challengers Karla Sitic from Croatia and Russian Olga Kozydub. The Spanish touched first in 1h58m38s while second-place finisher Sitic completed the race in 2h01m14s. Kozydub secured the bronze in a time of 2h01m16s. 

Full FINA Open Water Swimming Grand Prix 2013 calendar:

Race 1: January 27, 2013 in Rosario (ARG)
NEXT RACE: February 3, 2013 in Santa Fe-Coronda (ARG)
Race 3: February 10, 2013 in Hernandarias-Parana (ARG)
Race 4: April 20, 2013 in Cancun (MEX)
Race 5: July 27, 2013 in Lac St-Jean (CAN)
Race 6: August 3, 2013 in Lac Magog (CAN)
Race 7:  August 24, 2013 in Ohrid Lake (MKD)
Race 8:  September 1, 2013 in Capri-Napoli (ITA)

Menpora berharap centra pelayanan cedera segera diaktifkan


Jakarta, AKUATIK INDONESIA - Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo berharap Centra Pelayanan Rehabilitasi Cedera Olahraga Nasional segera bisa diaktifkan karena gedung kesehatan yang terletak di kawasan GOR POPKI Cibubur, Jakarta Timur itu sudah lama berdiri.

"Tempat ini sudah lama berdiri dan selama ini tidak aktif, maka saya berharap tempat ini bisa diaktifkan," kata Roy Suryo saat meninjau gedung Centra Pelayanan Rehabilitasi Olahraga Nasional tersebut, Sabtu.

Ia mengatakan, tempat rehabilitasi cedera yang berdiri pada 2009 dan belum resmi dioperasikan ini memiliki fasilitas rehabilitasi kesehatan yang cukup canggih.

"Di sini ada hidro pool yang menjadi unggulan, dan fasilitas lainnya seperti alat-alat kebugaran, poli gigi, ruang operasi dan lainnya, ini tempat yang cukup layak untuk rehabilitasi," kata Menpora setelah berkeliling melihat-lihat fasilitas yang ada di gedung berlantai empat itu.

"Tapi gedung ini juga perlu ada sedikit perbaikan, seperti lantai-lantainya yang ada beberapa sudah rusak," tambahnya.

Ditanya tentang siapa yang akan mengelola tempat rehabilitasi cedera itu, Roy Suryo mengatakan bisa dijalankan oleh satu pihak atau yang bersifat kerja sama.

"Nanti akan saya rekomendasikan apakah tempat rehabilitasi ini dikelola oleh Kemenpora atau kerja sama dengan pihak lain," katanya.

Menurut Menpora, untuk beroperasinya centra rehabilitasi cedera ini tidak bisa begitu saja berjalan, namun harus masuk akreditasi seperti harus adanya dokter serta administrasi pelayanan, serta struktur organisasi," kata Menpora yang berencana menamai tempat itu dengan nama tokoh olahraga atau tokoh kesehatan olahraga. (ANTARA News)

Senin, 28 Januari 2013

Roy Suryo akan Bawa Hasil Pantauan Lapangan ke Sidang Kabinet


JAKARTA – AKUATIK INDONESIA - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo mengatakan, sebagian besar cabang olahraga (cabor) yang dipromosikan
mengikuti SEA Games XXVII Myanmar 2013, butuh sarana dan prasarana memadai.
Karena itu, hasil pemantauan lapangan ke sejumlah pengurus besar (PB)/pengurus pusat (PP), akan menjadi bahan untuk dibawa ke sidang kabinet, supaya diketahui pemerintah. Rencananya, Roy Suryo bertemu Komisi X DPR untuk rapat dengar pendapat (RDP) pada akhir Januari 2013.
“Perbaikan sarana dan prasarana butuh anggaran yang cukup. Saya berharap, anggaran persiapan atlet menuju SEA Games XXVII Myanmar berjalan lancar. Bahkan, yang masih ditandai bintang sudah cair sesuai waktu yang diharapkan,” kata politisi Partai Demokrat saat ditemui wartawan termasuk Tribunnews.com di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2013).
Roy yang didampingi Kasatlak Prima Surya Darma, Sekjen KONI Pusat Hamidi, dan Deputi Bidang Prestasi Menpora Djoko Pekik mencontohkan, saat atlet Pelatnas Renang Indah latihan di kawasan stadion kolam renang Senayan, alat kelentingan loncatan sudah aus, dan perlu perbaikan atau pergantian.
Peralatan yang canggih seperti di Cina cukup bagus. Itu yang tampaknya perlu didatangkan dari Negara 'Tirai Bambu' secepatnya.
"Begitu juga dengan cabor tinju, perlu peralatan yang canggih, agar mengembalikan prestasi atlet tinju di zaman kejayaannya, dan selalu tampil di Olimpiade," tutur Roy.
Ia berharap, petinju nasional memiliki prestasi puncak, baik di amatir hingga melangkah ke tinju profesional. Cabor wushu, karate, dan panahan juga butuh alata yang canggih, agar mampu bersaing dengan atlet dari negara lain.
Cabang wushu selalu memberikan kontribusi medali emas bagi Indonesia saat tampil di SEA Games. Begitu juga dengan karate dan panahan.
"Usahakan tempat latihan panahan tidak diganggu dengan cabang lain," pinta Roy.
Bahkan, lanjutnya, lapangan ABC Senayan selalu digunakan latihan sepakbola. Sehingga, jelas mengganggu para atlet panahan saat latihan. (TRIBUNNEWS.COM)

Menpora Tinjau Pelatnas Renang Indah

Roy Suryo

Jakarta, LONCAT INDAH INDONESIA:  Menpora Roy Suryo didampingi istrinya Ismarindayani Priyanti meninjau tempat pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Renang, Tinju, Karate, Wushu dan Panahan di Area Komplek Gelora Bung Karno (25/1).
Selama melakukan peninjauan Menpora melihat-lihat langsung para atlet menjalani latihan sekaligus meninjau  fasilitas peralatan yang  mereka gunakan. Di kolam renang Senayan, Menpora menyalami dan berkenalan dengan para atlet-atlet Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).. 
Saat melakukan  peninjauan, Menpora mendapat masukan  dari para atlet, pengurus dan pelatih mengenai bagaiamana persiapan dan kondisi peralatan selama digunakan untuk latihan. Memang saat meninjau di PRSI, Menpora melihat ada beberapa peralatan latihan yang sudah  tidak layak digunakan, seperti trumpoline yang pegasnya sempat lepas dan dilihat  Menpora. 
Setelah meninjau renang indah, Menpora melanjutkan pelatnas tinju yang masih masuk dalam kompleks Senayan. Di situ Menpora melihat  sebanyak sekitar 30 atlet putra dan putri yang sedang melakukan latihan tinju. Mengenai kondisi beberapa peralatan dan kondisi atlet tak luput dipertanyakan masing-masing oleh Menpora. Begitu juga ketika melihat latihan Wushu di pintu VIII Senayan Jakarta, Menpora menanyakan mengenahi target masing-masing atlet dalam persiapa SEA Games nanti. 
Pelatnas yang terakhir dilihat oleh Menpora adalah panahan. Didampingi Binpres PB Perpani Nyoman Budiana, Menpora melihat para atlet panahan yang sedang beristirahat, karena  hujan dan kondisi lapangan yang banyak tergenang air. Nyoman mengatakan kondisi lapangan seperti itu sangat menggangu latihan para atlet.  "Bukan hanya kondisi lapangan, waktu berlatih kita juga harus gantian dengan tim sepakbola yang setiap jam 4 selalu tiba di lapangan, ini sangat terganggu," kata Nyoman. 
Usai meninjau beberapa tempat pemusatan latihan nasional tersebut, Roy mengakui  memang masih banyak kekurangan dan kendala termasuk sarana dan prasarana, pendidikan dan kesejahteraan atlet. Masalah itu yang akan menjadi perhatian Menpora yang akan dibicarakan lebih lanjut dengan jajaran terkait, termasuk dengan Mendiknas yang diharapkan bisa membantu pendidikan atlet Indonesia
"Yang menjadi prioritas untuk diselesaikan adalah  sarana prasarana, pendidikan dan kesejahteraan atlet. Tiap-tiap cabang saya lihat juga punya permasalahan mikro sendiri-sendiri, misalnya panahan yang saya dapatkan datanya yakni mereka harus bergantian tempat untuk berlatih. Selain itu masalah teknologi dalam pertandingan juga perlu diperhatikan dan diikuti, jangan sampai kita salah dalam mengantisipasi. Untuk mengatasi masalah ini semua saya tetap akan berusaha secepatnya, tapi saya harus tetap taat azas dan aturannya," kata Menpora.  

Radja Nasution Dirawat di RS Advent Bandung.


JAKARTA. AKUATIK INDONESIA: Pelatih renang Radja Murnisal Nasution yang mengalami penyakit diabetes (kencing manis), terpaksa menjalani perawatan khusus di RS Advent di Bandung.
Ayah dari Ratu Renang tahun 1980-1990-an, Elvira Rossa dan Elsa Manora, ini sudah lama menderita penyakit tersebut. Ia juga telah mengalami pemotongan telapak kaki kirinya. "Tadinya, kondisi Pak Radja Nasution sempat tidak sadarkan diri. Namun, kini sudah mulai berangsur pulih. Dia disuruh puasa oleh dokter yang merawat untuk mengurangi kadar gula dalam darahnya," kata Sri Mulyani, salah satu orangtua murid klub Pari Sakti saat menjenguknya, Minggu (13/1).
Radja dirawat di rumah sakit tersebut sejak tanggal 30 Desember lalu. Mantan pemain polo air nasional ini terus mengabdikan dirinya menangani klub. Beberapa perenang nasional berprestasi tingkat internasional berhasil dilahirkannya. Dan, ia juga berhasil menjadikan anak-anaknya perenang andal.
Radja merupakan pendiri klub renang Pari Sakti. Tak ada klub renang di Jakarta sehebat Pari Sakti, sehingga bisa dikatakan bahwa Pari Sakti adalah klub renang tak tertandingi untuk kawasan Ibu Kota dan sekitarnya. Hampir setiap kejuaraan renang di sekitar Jakarta, apa pun nama kejuarannya, Pari Saktilah rajanya.
Bukan hanya lantaran pendiri dan pimpinannya bernama Radja, melainkan memang atlet asuhannya memang luar biasa. Kalau mau dicari saingannya, maka saingan terdekatnya justru datang dari klub renang milik anak-anaknya, seperti Elfira Swimming Club (ESC), yang memiliki cabang di mana-mana seperti pohon durian.
Kehebatan Pari Sakti didukung oleh sarana dan prasarana yang representatif di Kolam Renang Senayan, yang sering dijadikan ajang pertarungan atlet nasional dan internasional. Namun, yang lebih dari itu adalah kehebatan oleh sang pendiri dan sekaligus pelatih Radja Mursinal Nasution yang telah terkenal banyak melahirkan atlet-atlet nasional.
Radja tidak berambisi buru-buru mencetak juara bagi anak-anak asuhannya itu. Ia dengan sabar mendidik anak asuhannya berlatih dengan telaten tahap demi tahap. (Suara Karya) 

Jumat, 18 Januari 2013

Jakarta Jadi Kolam Renang

Presiden di Istana Negara
AKUATIK INDONESIA. Banjir yang mengepung Jakarta hingga mengubahnya menjadi kolam renang (Kamis, 17 Januari). Air merata memasuki seluruh daerah pemukiman penduduk, gedung perkantoran, perbelanjaan, hingga istana negara.

KONI Award 2012: Tono Suratman Raih Penghargaan Senagai Pembina


KUDUS, AKUATIK INDONESIA - Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman kembali menegaskan telah memberikan penghargaan KONI Award 2012 kepada insan olah raga yang terdiri atas 8 atlet, 1 pelatih, 2 pembina, dan 5 lembaga yang dinilai telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan olah raga di tanah air. Hal itu diutarakannya dalam acara Penghargaan KONI Award dan Atlet PB Djarum Berprestasi 2012 yang berlangsung di GOR PB Djarum Jati, Jalan Ahmad Yani nomor 28, Panjunan, Kudus, Jawa tengah, Rabu (16/1/2013).
Tokoh renang Jawa Barat, Entis Kushendar menjadi salah satu penerima penghargaan dari kategori pembina olah raga bersama imron Rosadi dari cabang angkat besi. Entis diganjar penghargaan itu karena prestasi renang Jabar yang gemilang pada PON XVIII di Riau yang sukses menyabet 22 medali emas.
Dalam sambutannya, Tono mengatakan, program penghargaan tersebut merupakan yang pertama kalinya diadakan KONI sejak berdiri 1942 silam. Delapan atlet yang mendapat penghargaan itu di antaranya ialah Triyatno dan Eko Yuli Irawan (angkat besi), Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir (bulutangkis), Sri Hartati (angkat berat), Chris John dan Daud Yordan (tinju), dan David Jakobs (tenis meja paralympic).
Untuk kategori pelatih, penghargaan diraih pelatih angkat besi, Lukman. Untuk kategori lembaga, penghargaan didapat PT Djarum Kudus, Tabloid Bola, Yayasan Supersemar, PT Chevron Pacific Indonesia, dan LPP TVRI. Secara simbolis, penghargaan itu sudah diserahkan kepada para penerima di Kalimantan Timur oleh Menkoksesra Agung Laksono beberapa waktu lalu. (pikiran rakyar)