Kamis, 27 Februari 2014

Olahraga, Kesadaran dan Teknologi Pendidikan



JAKARTA, AKUATIK — Teknologi pendidikan harus dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan, mengeksplorasi, dan membayangkan bagaimana berpikir yang nantinya akan membawa kesuksesan dan juga kesadaran akan dunia di sekeliling mereka.

Mantan kapten timnas Inggris, Alan Shearer, kembali ke Stadion Wembley untuk mendukung Sport Relief, kegiatan penggalangan dana yang didukung banyak pihak.

Shearer yang telah pensiun akan bertanding dengan Robbie Savage dari BBC untuk berlomba di Stadion Wembley. Selama lima hari, mereka akan bersaing menyentuh bagian belakang tempat duduk yang berjumlah 45.000 di setiap bagiannya.

Kegiatan yang akan berlangsung antara 10-14 Maret ini diharap akan mengumpulkan dana yang digunakan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu di Inggris dan seluruh dunia.

Mereka yang berniat menjadi donatur dapat mengikuti permainan melalui www.sportrelief.com/backsides dengan membayar 5 poundsterling untuk setiap permainan.

Sport Relief sudah berlangsung sejak 2002 lalu dan digalang kalangan olahraga untuk kegiatan amal membantu mereka yang membutuhkan.

Kegiatan ini juga menyasar sekolah-sekolah di Inggris agar para murid punya kesadaran tentang situasi di luar mereka yang membutuhkan bantuan.

Teknologi pendidikan menembus ruang dan waktu

Usaha menumbuhkan kesadaran di sekolah-sekolah Inggris ini dilakukan dengan antara lain bantuan dari Planet Promethean dengan penggunaan teknologi pendidikan.

Secara umum, cara ini mampu mengubah metode/sistem belajar yang sifatnya masih konvensional atau manual ke sistem belajar mengajar yang lebih interaktif karena merupakan sarana pembelajaran multimedia yang berupa media teks, grafis, foto, gambar, audio, video, serta animasi secara integrasi.

Sarana ini memungkinkan pelaksanaan proses belajar mengajar menjadi aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, bahkan dapat dilakukan kapan saja baik di dalam maupun di luar ruang kelas sehingga proses pembelajaran menjadi sangat produktif dengan hasil akhir akselerasi penyerapan materi belajar yang sangat cepat dan bermutu tinggi.

"Saat ini siswa di sejumlah negara sudah dekat dengan perangkat teknologi, setidaknya mereka sudah terbiasa mencari informasi tambahan dari internet, siswa sudah terbiasa dengan perangkat selular canggih. Dengan kemampuan-kemampuan awal tersebut para siswa juga harus disiapkan di dalam kelas dengan teknologi yang biasa mereka gunakan," jelas Magnus Bengtsson, seorang pengamat pendidikan berbasis teknologi dari Promethean UK, saat bertemu wartawan di Jakarta, awal pekan lalu.

Teknologi, lanjut Magnus, harus dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan, mengeksplorasi, dan membayangkan bagaimana berpikir yang nantinya akan membawa kesuksesan dan juga kesadaran akan dunia di sekeliling mereka.

Saat ini di dunia teknologi pendidikan berkembang apa yang disebut Interactive Whiteboard Type Promethean ActivBoard 595 Pro Mobile System with EST Projector. Sebuah papan interaktif multitouch: pen dan sentuhan tangan (touch screen) yang kaya fitur, menggabungkan warna, gerak, dan aktivitas suara yang terintegrasi dengan built-in speaker penguat suara stereo sebagai pendukung mata pelajaran. Terpasang pada stand board yang dapat diatur ketinggiannya secara elektrik (motorized height adjustable stand), dilengkapi gantungan proyektor serta proyektor tipe short throw.

Sejumlah negara di Eropa, Amerika, Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan Vietnam sudah menggunakannya. Di Indonesia, dalam kurun waktu dua tahun ini sudah ada sekitar 2.000 Interactive Whiteboard ini digunakan di sejumlah sekolah-sekolah.

Lebih jauh Magnus mengatakan, para guru pada saat yang bersamaan juga bisa mengetahui apakah para siswa mengerti dan paham dengan apa yang diajarkannya. Untuk itu, ada perangkat yang dinamakan Learner Response System, Merk Promethean ActivExpression2 – 32 Devices. Alat yang juga menjadi bagian dari Interactive Whiteboard.

Untuk berhasilnya sebuah proses belajar mengajar, para guru juga harus cepat tanggap dengan kemajuan teknologi yang ada. Belum lama ini dua guru terpilih ikuti pelatihan Promethean di Australia. Mereka adalah Dewi Meriani (SMAN 33) dengan judul "Sistem Respirasi" dan Budie Dwitama (SMAN 16) dengan judul "Hardware & Software" akan bertemu dengan guru-guru dari seluruh dunia di Australia dalam waktu dekat ini.

"Di Planet Promethean berkumpul 1,8 juta pendidik dari seluruh dunia dan tersedia lebih dari 100.000 makalah pendidikan. Para guru saat ini bebas saling berkomunikasi, bertukar pikiran mengenai kemajuan pendidikan yang terjadi di negaranya masing-masing dan dunia. Semuanya gratis dan guru-guru dari Indonesia sudah banyak yang bergabung dan memanfaatkan makalah-makalah pendidikan yang ada di Planet Promethean," jelas Magnus.

Saling berinteraksi, mengoptimalkan perangkat teknologi pendidikan yang terus berkembang, serta belajar tanpa ada batas ruang dan waktu adalah sebagian dari berbagai upaya meningkatkan pendidikan bagi para siswa. Selain tentunya para pengajar juga terus membekali diri dengan kemampuan-kemampuan terakhir dalam dunia pendidikan tingkat dunia. (KOMPAS.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar