Selasa, 18 Maret 2014

Ketika Doping Menjerat Mimpi Atlet



Oleh: Ezther Lastania (detik.com)

Doping selalu menjadi hal yang ingin dijauhi para atlet. Doping ini kerap lekat dengan cabang olahraga terukur seperti atletik, akuatik (renang), dan balap sepeda. Tak sedikit atlet yang merasa perlu menambah kekuatan mereka dengan mengonsumsi zat-zat terlarang. Di Indonesia, kasus yang berkaitan dengan doping masih relatif tak terdengar. Namun sayang bukan berarti kasus semacam itu tidak ada.

Perenang spesialis gaya dada, Indra Gunawan, kemungkinan besar tak bisa tampil di  Asian Games Incheon, September mendatang karena urusan doping. Indra bisa jadi bakal menjalani hukuman larangan berlomba di berbagai kejuaraan renang oleh Federasi Renang Dunia atau FINA. Indra, bersama rekan atlet renang lainnya, Guntur Pratama Putera terbukti mengonsumsi bahan terlarang  methylhexaneamine yang terkandung dalam suplemen Jack 3D. Sebuah suplemen yang mereka konsumsi saat tampil di ajang Asian Indoor and Martial Arts Games (AIMAG) di Incheon pada Juli 2013.

Kejadiannya telah berlalu hampir setahun silam, tetapi efeknya kemungkinan besar akan membuat Indra tak lagi bisa kembali ke Incheon tahun ini. Padahal, Indra dan Guntur sudah harus pasrah melepaskan medali yang telah mereka raih di ajang AIMAG tersebut. Kedua perenang ini juga sudah dijatuhi hukuman larangan berlomba di tingkat nasional maupun internasional selama tiga bulan oleh Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI). Hukuman itu berlangsung antara Agustus hingga November 2013.

Meski begitu, masa hukuman ini cukup pas untuk jadwal mereka. Karena, setelah itu Indra dan Guntur bisa kembali tampil di SEA Games XXVII Myanmar pada Desember 2013.  Indra Gunawan kembali sukses menjadi pendulang medali. Dia mempersembahkan satu medali perak di nomor 100 meter gaya dada dan medali emas 4x100 meter gaya ganti beregu putera. Indra meraih medali emas bersama I Gede Siman Sudartawa (gaya punggung), Triady Fauzi Sidiq (gaya bebas) dan Glenn Victor Sutanto (gaya kupu-kupu). Tim estafet ini telah membuktikan diri sebagai yang terbaik di tingkat Asia Tenggara dalam dua pentas SEA Games, tahun 2011 dan 2013.

Komposisi anggota tim sempat mengalami perombakan setelah mereka mencuri perhatian di SEA Games Laos 2009. Kala itu, posisi Siman masih diisi oleh Guntur dan mereka sukses merebut medali emas sekaligus memecahkan rekor SEA Games. Rekor ini dipertajam dengan catatan waktu 3 menit 41,35 detik pada perhelatan dua tahun setelahnya di hadapan para pendukungnya di Stadion Akuatik Jakabaring, Palembang, pada SEA Games 2011. Saat itu, Siman telah menggantikan posisi Guntur.

Meski tak mampu memperbaiki rekor mereka, tim estafet gaya ganti putra ini kembali melaksanakan tugasnya dengan baik lewat persembahan satu medali emas di SEA Games Myanmar 2013. Kehadiran para anggota tim di nomor perseorangan juga cukup gemilang. Triadi sukses membawa pulang dua medali emas lain dari nomor 50 meter dan 100 meter gaya bebas putra. Siman memberikan satu emas dari 100 meter gaya punggung putra. Indra merebut medali perak di nomor 100 meter gaya dada putra. Sementara Glenn mempersembahkan medali perunggu di nomor 100 meter gaya kupu-kupu putra.

Catatan ini tentu bisa menjadi modal yang fantastis untuk dibawa ke Incheon pada Asian Games 2014, 19 September – 4 Oktober mendatang. Apalagi, ada ambisi tersendiri dari Pengurus Pusat (PP) Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI). Setidaknya medali perunggu bisa dibawa pulang para perenang Indonesia. Cabang olahraga renang terakhir kali meraih medali di Asian Games Cina tahun 1990 silam. Geliat yang ditunjukkan para perenang putra Indonesia ini dalam beberapa kejuaraan terakhir setidaknya bisa memberikan sedikit harapan.

Mungkin saja mereka bisa lebih bersaing dengan negara-negara penguasa cabang ini seperti Cina, Jepang, atau Korea Selatan. Atau setidaknya, mereka bisa menunjukkan persaingan lebih sengit dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Thailand yang memang cukup dominan di level Asia Tenggara. Sebuah impian yang layak dimiliki setiap pengurus cabang olahraga saat potensi juara terlihat jelas.

Namun, permasalahan doping yang tengah menjerat Indra dan Guntur sangat mungkin memupuskan mimpi itu. Apabila keputusan FINA memberikan hukuman dua tahun ini berlaku efektif, Indonesia terancam kehilangan medali emas dan perak SEA Games yang dipersembahkan Indra. Bisa jadi artinya, medali emas kebanggaan dari tim estafet gaya ganti putra harus terlepas dari tangan. Selain itu, peluang untuk memperoleh medali di Asian Games Incheon semakin kecil.

Indra masih belum memiliki pengganti yang cukup mumpuni. Artinya, tanpa kehadiran Indra di dalam tim, kekuatan akan menjadi timpang sehingga peluang meraih medali dari nomor beregu putra bisa lenyap. Dan, harapan kemudian hanya bisa dibebankan pada pundak Triadi dan Siman, yang sama-sama menjadi yang terbaik dalam skuat renang Indonesia.

PP PRSI kini berjuang sekuat tenaga agar masalah doping yang menjerat atletnya tidak merugikan. Apapun alasan di balik konsumsi zat terlarang itu, baik disengaja maupun tidak, mungkin bisa membantu dalam proses pengajuan banding. Dengan harapan, banding bisa dikabulkan dan hukuman tak lagi harus diberikan seberat itu. Namun, pelajaran yang lebih berharga dari itu tentu saja adalah setiap keputusan yang diambil, termasuk dalam urusan pilihan suplemen, sangatlah penting diperhatikan. Jika salah dalam mengambil keputusan, ada konsekuensi besar yang sudah menanti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar