Kamis, 08 Desember 2011

Ian Thorpe Siapkan Comeback di Olimpiade London

TENERO – Perenang Australia sekaligus juara lima kali Olimpiade Ian Thorpe saat ini tengah mengembangkan teknik renang baru, setelah ia memutuskan comeback ke kompetisi elit renang untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Thorpe yang pensiun pada 2006 kembali turun ke kolam demi Olimpiade tahun depan di London. Ia kini bekerja di bawah pelatih Rusia Gennadi Touretski di Swiss.
Dia berlatih keras menjelang comeback untuk kompetisi renang dunia di Singapura pada tanggal 4-5 September.
Thorpe terkenal dengan gaya bebas dengan teknik klasik yang membuatnya mendapatkan lima medali emas Olimpiade, 11 gelar juara dunia dan memecahkan rekor dunia 13 di masa jayanya, kendati saat ini Thorpe terlihat sedikit berbeda di kolam renang.
"Ini masih Thorpe. Anda dapat melihat dalam kekuatan tendangannya, gelombang yang luar biasa yang ia hasilkan ketika ia berenang dengan kecepatan penuh dan dengan cara yang tampaknya mudah ia meluncur melalui air," kata Touretski seperti dilansir The Australian, Senin (22/8/2011).
Touretski yang melatih di Institute Australia Olahraga di tahun 1990-an mengatakan, ia bertujuan untuk memberikan lebih banyak kebebasan Thorpe dalam aksi renangnya melalui rotasi pinggul lebih banyak dan rentang yang lebih besar untuk gerakan di bahu.
"Saya ingin dia berenang dengan kebebasan. Kita harus mengaktifkan kemampuan lombanya. Ia harus menempatkan diri dalam kondisi lomba,” ujarnya.
"Saya ingin dia menikmati lomba. Saya tidak ingin dia mengukur dirinya sendiri. Saya ingin dia bebas saat sedang berlomba. Hal utama yang saya inginkan adalah bagi dia untuk lapar untuk lomba,” paparnya.
Thorpe bermaksud untuk ikut lomba di tiga kompetisi renang dunia di Singapura, Beijing (November 8-9) dan Tokyo (November 12-13). Touretski ingin dia untuk bersaing di berbagai perlombaan untuk mengembalikan kepercayaan dirinya.

(fit)

Tono Suratman Ketua Umum KONI 2011-2015

Mayjen TNI Tono Suratman terpilih menjadi Ketua Umum KONI Pusat periode 2011-2015 dalam Musyawarah Olahraga Nasional XI yang berlangsung di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat.
Dalam pemilihan, Tono Suratman unggul dengan meraih 54 suara, sedangkan Hendardji Soepandji (Ketua Umum Forki) mendapat 20 4 suara dan Djati Waluyo (Sekjen KONI Pusat) hanya mengantongi enam suara.
Ketua Umum KONI Pusat terpilih Tono Suratman menyampaikan rasa terima kasih kepada peserta Musyawarah Olah Raga Nasional (Musornas) yang telah menjalankan tugasnya dengan baik.
"Sebagai ketua umum yang baru saya berterima kasih kepada Menpora dan Ketua Umum KONI Pusat yang lama Rita Subowo, panitia pelaksana serta tuan rumah," ujarnya. 
Dia mengatakan, sesuai visi misi, strategi, dan program yang telah dipaparkanya, akan dilengkapi saat Rapat Kerja Nasional KONI Pusat dan setelah kepengurusan baru terbentuk.
Sejalan dengan itu, katanya, pihaknya akan menyiapkan program strategis, diantaranya Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) yang diketuainya, yang telah menghabiskan dana sekitar. Rp300 miliar untuk menghadapi Olimpiade 2012.
Selain itu mempertahankan predikat juara umum di Sea Games XXVII di Myanmar. 
Terkait dua calon yang tidak terpilih, dia mengatakan, pihaknya akan tetap mengakomodir dalam kepengurusan KONI yang baru, karena visi dan misi yang telah mereka sampaikan cukup bagus.
Di samping itu, kata Tono, pihaknya juga akan mengakomodir kepengurusan daerah untuk masuk ke pengurusan KONI Pusat.
Musotnas yang berlangsung tiga hari ini dihadiri pengurus KONI dari i 33 provinsi, serta 43 pengurus Cabang Olah Raga, antara lain dihadiri Menpora Andi Malarangeng, Menkokesra Agung Laksono, dan Gubernur NTB M Zainul Majdi. 
Pada acara tersebut juga diserahkan penghargaan kepada induk organisasi cabor penyumbang emas terbanyak pada Sea games XXVI/2011, yaitu atletik dengan 13 emas, disusul enam cabor lainya.
Dilanjutkan dengan KONI provinsi penyumbang emas terbanyak, yakni DKI Jakarta dengan 76 emas disusul enam provinsi lainnya. 
Penghargaan juga diberikan kepada Gubernur NTB TGM M Zainul Majdi sebagai tuan rumah sekaligus sebagai tempat pertama Musornas KONI digelar di luar Jakarta.

(ANTARA)

Presiden ingin Indonesia juara SEA Games Myanmar

Presiden Susilo Yudhoyono berharap para atlet nasional bisa meningkatkan prestasi dan mempertahankan gelar juara umum pada SEA Games ke-27 di Myanmar pada 2013.
"Kita tingkatkan prestasi ini. Saudara-saudara pasti ingin memenangkan SEA Games 2013 di Myanmar. Saya yakin itu," kata Yudhoyono saat bersilaturahmi dengan atlet peraih medali dan Panitia SEA Games Ke-26. Dia juga menerima Panitia Nasional KTT Ke-19 ASEAN dan KTT Terkait Lain di halaman tengah komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Yudhoyono menegaskan, para atlet harus berlatih keras dan bersatu jika ingin mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Semua pihak boleh bersyukur dan bergembira atas prestasi Indonesia pada SEA Games ke-26, namun hendaknya hal itu tidak membuat semua pihak menjadi takabur.
"Khusus menghadapi SEA Games di Myanmar, mari kita berlatih lebih baik. Belajar dari pengalaman yang lalu," ujarnya.
Yudhoyono mengatakan, semangat kebersamaan telah membuat Indonesia berjaya di ajang SEA Games, meski awalnya banyak pihak meragukan kesiapan Indonesia sebagai penyelenggara.
Menurut dia, berbagai kritik itu harus disyukuri sebagai bahan untuk memperbaiki diri, terutama apabila kritik itu disampaikan secara tulus oleh pihak yang ingin Indonesia berhasil.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin selaku tuan rumah penyelenggara SEA Games ke-26 telah menyerahkan bendera SEA Games kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Myanmar Tin Sun yang menjadi penyelenggara kegiatan dua tahunan itu pada 2013.
Penyerahan itu dilaksanakan dalam upacara penutupan SEA Games ke-26 di Palembang pada 22 November 2011.
Indonesia berhasil tampil sebagai juara umum dengan mengumpulkan 182 medali emas, 151 medali perak dan 143 medali perunggu. Prestasi itu sekaligus menandai kebangkitan Indonesia, setelah tidak menyandang gelar juara umum sejak 1997.

Sumber:antaranews

Empat Cabor ke Olimpiade

Perhelatan pesta olahraga sejagat, Olimpiade, telah di depan mata, tepatnya akan berlangsung 234 hari ke depan. Untuk Olimpiade 2012 yang akan dihelat di London ini, Indonesia ambil bagian dalam empat cabang olahraga (cabor), yakni angkat besi, panahan, bulutangkis, dan renang. Cabang-cabang ini memang pelanggan tetap keikutsertaan Indonesia di Olimpiade setidaknya sampai dengan Olimpiade Beijing 2008 lalu.
”Sampai sekarang sudah ada empat cabang yang akan diikuti Indonesia dalam Olimpiade tahun depan. Cabang-cabang itu adalah angkat besi, panahan, renang, dan bulutangkis,” kata Andi, di Kediaman Dubes Inggris untuk Indonesia di Jakarta, Selasa (6/12).
”Tentu kami berharap banyak cabor lain yang saat ini sedang ikut kualifikasi dapat lolos ke Olimpiade,” lanjutnya.
Dikatakan Andi, peluang Indonesia untuk meraih medali emas di ajang Olimpiade London 2012 masih datang dari cabor bulutangkis. Olahraga tepok bulu ini kerap menjadi penyumbang medali emas bahkan dari pertama kali cabor ini disertakan di Barcelona tahun 1992 silam.
Kualifikasi untuk cabang bulu tangkis masih akan berlangsung hingga April tahun depan. ”Ada kesempatan di ganda campuran dan juga ganda putra. Jadi, bulutangkis harus bisa mendapatkan medali emas,” harapnya.
Sejauh ini, atlet yang telah lolos di antaranya lifter Triyatno dan Eko Yuli Wirawan. Di kelas masing-masing, kedua lifter itu meraih medali emas di cabang angkat besi pada SEA Games November lalu. Nantinya, para atlet tidak langsung dibebani harus meraih medali emas di London. Sebab, para atlet yang dikirim berusia masih sangat muda, mulai dari 17-an tahun hingga awal 20-an tahun.
”Mereka masih harus menimba pengalaman. Kami harapkan mereka akan mengalami masa puncak pada Asian Games di Korea Selatan 2014 dan Olimpiade di Brasil 2016,” jelas mantan juru bicara presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.
Pada Olimpiade Beijing 2008 di Beijing, Cina, Indonesia menempati peringkat ke-42 dengan perolehan 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Medali emas pertama disumbangkan cabang bulutangkis melalui pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan. Medali perak diraih Nova Widianto/Lilyana Natsir (bulutangkis, ganda campuran), medali perunggu masing-masing oleh Maria Kristin Yulianti (bulutangkis, tunggal putri), dua atlet angkat besi Eko Yuli Irawan (total angkatan 288 kg), Triyatno (total angkatan 298 kg).

Sumber:Surabaya post

Senin, 05 Desember 2011

KRAPSI XXXII Surabaya: Desember, Pembuktian Perenang Sumbar

Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) XXXII di Surabaya 27-30 Desember mendatang, jadi ajang penentu bagi Sumbar untuk meloloskan perenang ke PON XVIII Riau 2012. Di mana tiket PON ditentukan catatan waktu yang dibuat para perenang, dengan catatan minimal yang telah ditentukan pernomornya.
Perjuangan perenang-perenang Ranah Minang dipastikan berat. Pasalnya, Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) telah menetapkan 70 perenang yang lolos PON dari 100 kuota yang disediakan. Ke-70 perenang itu, lolos dari hasil Kejurnas Kelompok Umur (KU) di Surabaya, Mei lalu. Dengan demikian hanya tinggal 30 tiket lagi yang akan diperebutkan. Dari ke-70 perenang itu, satu di antaranya adalah perenang Ranah Minang, Patricia Yosita Hapsari.
Dia berhasil memecahkan Rekor Nasional (Rekornas) di KU I dengan catatan waktu 00, 27, 46 di nomor 50 meter gaya bebas putri. Rekor tersebut lebih tajam 00:00:04 dari catatan sebelumnya 00:27:50 yang dibukukan perenang Jambi, Elsa M Nasution.
”Benar, baru Yosita yang sudah lolos. Artinya kuotanya sudah by name. Namun berapa kekuatan kita di PON nanti, sangat bergantung pada hasil KRAPSI di Surabaya nanti,” kata Sekretaris Umum Pengprov PRSI Sumbar, Astronel, kepada Padang Ekspres, di sekretariat KONI Sumbar, Jumat (11/11).
Pada nomor 200 meter gaya bebas putri, perenang andalan Ambacang Swiming Club (ASC) Padang ini juga berhasil menempatkan diri di posisi utama dengan membukukan 02,08, 81. Sedangkan limit waktu yang ditetapkan PB PRSI kala itu baru 02:31:63. Catatan waktu itu berbeda 00:02:45 dari rekor nasional yang pernah dibukukan sebelumnya, yakni 02:06:36.
Prestasi yang diraih Yosita, berbanding terbalik dengan yang diraih rekan seperjuangannya, Harizal, meski telah tampil maksimal di kejuaraan bergengsi di Kota Pahlawan itu namun belum ada rekor nasional yang dibukukan untuk kategori senior. Staf di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Padang itu sempat menempati peringkat kedua di nomor 100 meter gaya kupu-kupu putra dengan catatan 00,57, 50.
Sedangkan di nomor 100 meter gaya punggung putra, peraih medali emas di PON XVII Kaltim pada 2008 ini, sukses menduduki peringkat kedua dengan mencatat 01, 01, 05. Hasil ini 00, 01, 45 lebih tajam dari catatan waktu terbaiknya sebelumnya 01, 02, 50.
Meski Astronel memastikan persaingan di KRAPSI nanti tidak gampang, dia optimis atlet renang Sumbar mampu menambah tiket PON. Minimal dari Harizal. Sebab, catatan waktu yang dibukukannya pada Kejurnas Mei lalu, telah melampaui limit waktu yang ditentukan. Khususnya di 100 meter gaya kupu-kupu putra dan 100 meter gaya punggung putra. (Padang Ekspres)

HIU KO, PETROKIMIA BERJAYA

Klub renang HIU Surabaya harus merelakan trofi juara umum renang yang tahun lalu diraihnya kepada rival beratnya, Petrokimia Gresik pada Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Daerah (Krapda) di GOR renang KONI Jawa Timur Minggu (4/12) kemarin.
Klub yang tahun lalu posisinya berada di bawah HIU Surabaya ini berhasil unggul medali dan jumlah total poinnya sejak hari pertama, hingga hari terakhir kejuaraan kemarin (04/12) Petrokimia berhasil mengumpulkan 4.635 poin dari 65 medali emas, 56 medali perak dan 43 medali perunggu. Sedangkan HIU Surabaya bertengger di posisi kedua dengan perolehan 3.370 poin dari 50 emas, 28 perak dan 31 perunggu. Sementara juara ketiga diraih oleh POR Suryanaga dengan total 1.555 poin dari 9 emas, 12 perak dan 14 perunggu.
Dudy Priharyadi, asisten pelatih Petrokimia Gresik menyatakan, kemenangan ini di luar dugaan, karena pada awalnya tim Petrokimia Gresik hanya menargetkan posisi kedua seperti tahun 2010 lalu. “Memang hasil ini di luar dugaan kami, pada awalnya kami mengincar posisi kedua, hal itu sangatlah realistis, karena HIU pesaing kami di kejuaraan ini sangatlah hebat atlet-atletnya,” ujarnya setelah menerima trofi juara umum.
Dudy yang menjadi asisten pelatih Petrokimia Gresik sejak 2008 ini menambahkan, kemenangan ini  juga tak lepas dari sumbangsih pelatih Petrokimia asal Cina, Mr. Wang Chai. “Ya, pelatih kami sangat berjasa sekali bagi atlet-atlet renang Petrokimia, sekarang dia lagi berlibur di Cina, namun setiap menjelang latihan, kami selalu meneleponnya untuk meminta instruksi dan materi latihan,” ujar asisten pelatih yang tinggal di Jl. Mahoni No.3 Gresik ini. Sejak kedatangan pelatih asal Cina tersebut, catatan waktu atletnya semakin meningkat, latihan pun dilaksanakan 10 kali dalam seminggu pada pagi dan sore hari.
Kemenangan ini pun berkat strategi yang berhasil diterapkan oleh anak didiknya, tim pelatih lebih menekankan pada konsentrasi di nomor-nomor andalan seperti di KU-1 dan KU-2. “Petrokimia mempunyai stok atlet di nomor KU-2 yang begitu hebat, hal ini menjadi kelebihan bagi kami. Sedangkan pesaing kami HIU, mereka mempunyai atlet senior yang hebat, namun kami tidak punya,” tambah asisten pelatih yang juga mantan atlet selam nasional era 1993 ini.
Di samping itu, Petrokimia Gresik menginstruksikan kepada atletnya untuk mengejar poin sebaik-baiknya, atlet diusahakan untuk mencatatkan waktu tercepat, karena penilaian hasilnya nanti berdasarkan poin terbaik. “Seperti ini mas, klub SC Eagle menempati peringkat V, meskipun tidak mendapatkan medali emas, tapi jumlah poin mereka lebih unggul dari Fit body Aquatic yang justru mendapatkan medali emas namun hanya berada di peringkat VI, makanya kami menekankan untuk mengejar poin” ujar Dudy sambil menunjukkan hasil akhir peringkat juara.
Sementara itu, atlet-atlet Petrokimia Gresik pun bersorak gembira ketika diumumkan klub mereka keluar sebagai juara umum. “Ye, ye, ye, juara,” teriak para atlet. Mereka pun mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama di podium.
Demikian juga pada Wiranto, atlet Petrokimia Gresik ini merasa bahagia setelah menerima penghargaan piala atlet terbaik KU-2, ia juga mengatakan akan terus berlatih untuk tetap menjadi juara. “Ya mas, saya ingin menambah koleksi gelar sebanyak-banyaknya,” ujar atlet yang lahir di Gresik tanggal 01 November 1996 ini. Prestasi yang pernah diraihnya pun cukup memuaskan selama ini, ia pernah meraih atlet terbaik piala KONI 2011, peraih medali emas Kejuaraan Renang Daerah (Kejurda) Jawa Timur 2010 KU-2 dan atlet terbaik Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Daerah (Krapda) 2010.
Siti Mani’ah, Ibu kandung Wiranto yang ikut menyaksikan pun ikut bahagia, “Saya ingin anak saya nanti mampu meraih juara di tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya sambil tersenyum. Ia akan selalu mendukung perjuangan anaknya. (Surabayapost)

Ombudsman Prihatin Terhadap Sikap dan Prilaku Walikota Surabaya

Masih ingat lepasnya aset Pemkot Surabaya berupa Kolam Brantas ke tangan swasta? Ternyata masalah itu masih berbuntut panjang meski telah dieksekusi dengan dimenangkannya Tedjo Bawono sebagai pemilik sah.
Tedjo Bawono melaporkan Walikota Surabaya kepada Ombudsman RI gara-gara Walikota Surabaya melarang Camat Gubeng memberikan Izin Mendirikan Bangunan dan Perpanjangan Izin Usaha di Jalan Irian Barat No 37-39 Surabaya. Tindakan walikota yang dilaporkan Tedjo itu dianggap sebagai walikota tidak memberikan contoh yang baik terhadap bawahannya dalam kepatuhan menjalankan perintah Undang-undang.
Di dalam siaran pers yang ditandatangani Ketua Ombudsman RI Danang Giridrawardana, prilaku Walikota Surabaya telah dilaporkan kepada DPR dan Presiden karena tidak melaksanakan rekomendasi Ombudsman RI Nomor 0013/REK/0042.2009/ITC-05/VII/2011 tertanggal 19 Juli 2011.
Ombudsman RI berpendapat telah terjadi tindakan maladministrasi dalam bentuk penundaan berlarut dan pengabaian kewajiban hukum yang dilakukan Camat Gubeng, 
Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman Pemerintah Kota Surabaya dan Walikota, karena tanpa alasan yang memadai telah menunda-nunda secara berlarut-larut pemberian izin yang diajukan Tedjo Bawono.
Karena itu, Ombudsman RI mengeluarkan rekomendasi dengan Nomor 0013/REK/0042.2009/ITC-05/VII/2011 tertanggal 19 Juli 2011 kepada Walikota Surabaya, Gubernur Jatim dan Menteri Dalam Negeri untuk menyelesaikan masalah itu dengan mematuhi keputusan Mahkamah Agung (MA).
Tedjo Bawono
"Tapi Walikota Surabaya tidak melaksanakan rekomendasi dengan dua alasan," terang Danang Giridrawardana melalui siaran pers yang diterima detiksurabaya.com, Minggu (4/12/2011).
Alasan yang disampaikan ke Ombudsman RI adalah Walikota Surabaya melalui surat nomor: 180/1610/436.1.2/2007 tanggal 17 April 2007 meminta fatwa kepada MA berkaitan dengan belum dipertimbangkannya putusan perkara pidana Pengadilan Negeri Surabaya Nomo: 
991/Pid.B/2004/PN Sby tanggal 6 Maret 2006 dalam putusan Peninjauan Kembali Nomor: 161/PK/PDT/2004 tanggal 31 Januari 2007. Surat tersebut hingga saat ini belum dijawab oleh MA. Alasan yang kedua upaya Pemkot Surabaya untuk mempertahankan aset berupa tanah dan bangunan Kolam Brantas.
"Alasan Walikota Surabaya tidak dapat diterima Ombudsman RI," terang Danang. 
Ombudsman RI memiliki 4 pertimbangan untuk menolak alasan yang disampaikan Walikota Surabaya. Ketidaktaatan Pemerintah Kota Surabaya terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, tidak sepatutnya dilakukan karena merupakan bentuk pengabaian hukum. 
Kemudian permintaan fatwa yang diajukan Pemkot Surabaya tidak dapat menghalangi pelaksanaan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dan tidak pula dapat dijadikan alasan pembenar untuk menolak atau tidak menindaklanjuti permohonan izin yang diajukan Tedjo Bawono.
Ombusdman RI sependapat dengan upaya untuk mempertahankan aset, tetapi upaya tersebut harus dilakukan dengan tetap pada koridor hukum dan ketentuan yang berlaku serta menghormati keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Alasan keempat adalah permohonan izin IMB dan Perpanjangan Usaha yang dilakukan Tedjo Bawono sudah seharusnya ditindaklanjuti sebagaimana mestinya mengingat obyek yang dimohonkan sudah diputuskan pengadilan dan berkekuatan hukum tetap sebagai hak milik Tedjo Bawono.
"Sesuai dengan UU 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman RI, bahwa rekomendasi Ombudsman adalah legally binding atau wajib dilaksanakan. Namun karena rekomendasi Ombudsman tidak dilaksanakan walikota, maka Ombudsman RI melaporkan ke DPR RI dan Presiden serta mempublikasikan," terang Danang dalam siaran pers itu.
Penolakan melaksanakan rekomendasi, tindakan walikota dinilai Ombudsman RI telah berakibat merusak wibawa presiden terkait upaya-ipaya penegakan hukum yang gencar dilaksanakan, melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik.
Kemudian menghambat keberhasilan program reformasi birokrasi yang menjadi agenda penting pemerintah serta memicu terjadinya moral hazard di masyarakat untuk tidak mematuhui hukum. (Rois Jajeli – detikSurabaya)