Selasa, 11 Januari 2011

Rita Subowo: Politik Olahraga Perlu Komitmen Pemerintah

Rita Subowo

MAJALAH AKUATIK INDONESIA. Terpuruknya prestasi olahraga nasional, disamping masih rendahnya komitmen politik olah raga, juga dijauhkannya sarana dan prasarana pembinaan dari wilayah pendidikan. Jadi, untuk bisa membangkitkan prestasi olahraga diperlukan komitmen pemerintah yang tinggi. Selain perlu dibangun sarana dan prasarana olahraga di setiap provinsi.

Pernyataan itu dikemukakan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Rita Sri Wahyusih Subowo, yang lebih dikenal dengan Rita Subowo. 

Rita, begitu panggilan akrab perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua KONI/KOI itu iri dengan tingginya prestasi olahraga di negara lain seperti Cina, Jepang, Jerman dan Singapura. Komitmen pemerintah begitu tinggi dalam memajukan olahraga. Sarana dan prasarana olahraga dibangun di mana-mana. Pemerintah Singapura saja menyiapkan lahan olahraga seluas 7 hektar. Lokasinya pun berdekatan dengan pusat-pusat pendidikan.

“Kita tidak usah meniru Singapura yang punya lahan 7 hektar. Di Indonesia cukup disediakan lahan 3 hektar di setiap provinsi. Lalu bersinergi dengan sekolah-sekolah yang ada. Maka saya optimis prestasi olahraga kita di masa mendatang akan maju,” ujarnya.

Selain itu, perempuan kelahiran Jogjakarta 27 Juli 1948 itu juga memandang perlu langkah peningkatan kompetisi olahraga sekolah hingga perguruan tinggi.  Istri Subowo Atmosardjono itu tak hanya berangan-angan. Komite olahraga yang dipimpinnya pun kini tengah merajut kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi. Sebut saja, misalnya Universitas Pelita Harapan dan Universitas Negeri Jakarta.

Apa saja gagasan dan pemikiran peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Semarang pada 11 Maret 2010 itu dalam memajukan prestasi olahraga nasional kita? Bagaimana pula kesiapan KONI/KOI dalam menyelenggarakan SEA Games yang digelar di empat provinsi yakni DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Selatan pada 2011? 

Berikut petikan perbincangannya dengan Sapto Adiwiloso dari politikindonesia.com, usai mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi X DPR, di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (09/06).


Dapatkah anda ceritakan mengapa Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah SEA Games 2011 dan mengapa digelar di empat provinsi?

Awalnya dulu pada saat pemilihan tuan rumah PON XVIII yang menjadi calonnya, Riau, Jateng, Jabar. Riau akhirnya ditunjuk sebagai tuan rumah PON XVIII pada 2012. Wakil Presiden saat  itu, Pak Jusuf Kalla  mengatakan,  dua daerah yang tidak menjadi tuan rumah PON akan ditunjuk sebagai tuan rumah SEA Games. Kami pun akhirnya mengusulkan Jateng dan Jabar sebagai tuan rumah SEA Games.

Namun persoalannya, Jawa Barat tidak mempunyai pelabuhan udara internasional. Jalan keluarnya, kontingen SEA Games nantinya harus masuk lewat Jakarta. Lalu Jateng juga punya persoalan karena venuenya terbatas. Itu pun juga sudah ada solusinya. Cabang olahraga yang dilaksanakan di Jateng disesuaikan dengan venue yang ada.
Sisanya dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan. Kebetulan Pemprovnya menyatakan kesiapannya.

Hasil kesepakatan itu kami bawa pada rapat Dewan Federasi SEA Games di Nakorn, Thailand. Kami nyatakan siap menggantikan Singapura, asal setuju di empat tempat. Memang sebelumnya  Singapuralah yang ditunjuk sebagai tuan rumah, tapi justru Singapura meminta agar digeser menjadi tuan rumah pada 2013.

Sarana prasarananya sudah siap?
Sudah.

Tapi tadi dikatakan masih ada ketimpangan anggaran antara persiapan fisik dengan pembinaan?
Itu yang kami akan negosiasikan kembali dengan pemerintah karena masih kurang dalam program satuannya. Karena itu kita mengharap agar venue “petanque”, “vovinam” - - dua cabang olahraga  dari Vietnam yang sudah diterima sebagai cabang olahraga SEA Games -- itu temporari saja tidak usah permanen dan juga ada cabang-cabang yang bisa disatukan.

Target SEA Games 2011 apa?
Insyaallah kita juara umum dengan diterimanya enam cabang baru yang kita usulkan. Tetapi tentu saja ini menyangkut dengan manusia, sistem, situasi sehingga semua diharapkan berjalan sebagaimana mestinya demi mewujudkan target tersebut.

Ada yang menilai kita baru bisa juara umum kalau jadi tuan rumah. Komentar anda?
Ya kami akui begitu. Ketika kita jadi tuan rumah volley pantai di Bali kita juara umum.Tapi pada saat mengikuti Asean Beach Games di Oman, Mei 2010, ada beberapa cabang yang tidak dimainkan sehingga kita kehilangan banyak medali.

Bagaimana sebenarnya kebijakan politik olah raga kita sehingga prestasinya tidak pernah stabil?
Memang kita memerlukan komitmen pemerintah yang tinggi seperti juga negara-negara lain. Paling tidak, sarana-prasarana olahraga dibangun di setiap provinsi.  Sekolah-sekolah olahraga juga perlu dihidupkan kembali.

Kita sangat kekurangan guru olahraga di sekolah-sekolah. Padahal dana di Kementerian Pendidikan Nasional, cukup besar. Kita juga perlu merapat ke kampus-kampus guna menggelar pekan olah raga mahasiswa.

Sarana dan prasarana olahraga yang dibangun seharusnya berada dalam wilayah pendidikan. Itu yang kami dambakan. Mengapa? Karena komunitas anak-anak di bawah usia 18 tahun itu rata-rata masih berada di bangku sekolah. Upaya itulah yang dilakukan di negara yang olahraganya telah maju.

Apakah pola itu akan diterapkan di Indonesia?
Yang positif tentunya kita perlu menyontoh dan menerapkannya. Karena itu, pembinaan olahraga ke depan melalui Program Indonesia Emas (Prima) Pratama memang dikhususkan untuk pembinaan olahraga sejak usia 12-18 tahun. Pembinaannya akan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Orang tua anak juga akan dilibatkan di dalamnya. Jadi mereka dapat tetap bersekolah, ada pembinaan olahraga yang terarah dan orang tua ikut mengawasi. Bagi yang berprestasi kita berikan bea siswa.

Pelaksanaan di setiap provinsi?
Iya. Kami bahkan berharap nantinya di setiap provinsi ada satu sekolah olah raga. Jadi begitu mereka menyelesaikan pendidikan di tingkat SD, SMP, mereka dapat meneruskan pendidikan di sekolah-sekolah olahraga. Pola itu yang diterapkan di  Cina, Jepang, Jerman, Singapura dan di berbagai tempat. Singapura bahkan menyiapkan lahan 7 hektar untuk membangun sarana prasarana olah raga. Kita cukup 3 hektar saja.

Anda optimis pola itu bisa membangkitkan prestasi olahraga kita?
Insyaallah.  Dengan kita mengetahui kelemahan kita, juga mengingat populasi penduduk kita yang terbesar di kalangan remaja, saya optimis. Mereka  kita beri motivasi agar menggemari olahraga sejak dini, meskipun itu perlu kesabaran. Karena itu pemerintah pusat maupun daerah juga harus bersinergi dan  memiliki komitmen tinggi dalam memajukan olahraga. Jika itu bisa diiwujudkan, saya optimis ke depan atlet-atlet kita mampu berbicara di kancah nasional dan internasional.

Bagaimana dengan kalangan perguruan tinggi?
Kegiatan olahraga kampus perlu dihidupkan kembali. Pekan Olahraga mahasiswa yang tadinya empat tahun sekali harus dimajukan. Misalnya menjadi dua tahun. Atau bahkan jika dimungkinkan setiap tahun. Kebetulan tahun ini, KONI/KOI telah menjalin kerjasama dengan Universitas Pelita Harapan, Universitas Jakarta dan beberapa perguruan tinggi lainnya untuk menyelenggarakan olympic day.

Pembinaan olahraga jangka menengah dan jangka panjang kita seperti apa?
Kementerian Olahraga telah menetapkan Program Indonesia Emas (Prima) yang akan dipusatkan di Pusdikpasus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Ketua Satuan Pelaksananya (Satlak) Mayjen TNI Soehartono Suratman yang kini menjabat Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI.

Dengan tersusunnya Dewan Pelaksana dan Satuan pelaksana Prima, maka pelatnas Asian Games yang disiapkan KONI sudah tidak berlaku lagi. Demikian juga Komandan Pelatnas Asian Games.

Tugas Satlak Prima adalah menyiapkan pembinaan dan pelatihan atlet-atlet ke Asian Games 2010 di Guangzhou, China. Juga program pembinaan selanjutnya hingga 2016. Ada 17 cabang olah raga yang disiapkan menghadapi Asean Games tersebut. Memang waktunya sudah teramat pendek. Karena itu diharapkan setiap cabang bisa meningkatkan persiapan.

Apa yang membedakan Prima dengan program sebelumnya, Program Atlet Andalan?
Yang membedakan,  pembinaan atlet utama dan muda dipisahkan dengan pembinaan atlet yunior (Pratama) di Prima. Sementara ketika masih Program Atlet Andalan, sumber atlet nasional—mulai dari utama, muda, hingga pratama—semua disatukan.

Di Prima Pak Tono, hanya membina atlet utama dan muda. Sedang pembinaan atlet pratama dipimpin mantan Komandan Pelatnas SEA Games 1997, Djoko Pramono, didampingi Marhot Harahap dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, sebagai wakilnya. (politikindonesia.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar