Sabtu, 28 Mei 2011

MAKAN DAGING ATAU DOPING?

Dua perenang China, Wang Wei dan Xiong Guoming, tak pernah menyangka, gara-gara menyantap tumis hati babi, mereka terkena hukuman: tak boleh berlomba tiga tahun. Pasalnya, hasil uji laboratorium menunjukkan di dalam tubuh mereka terkandung zat doping clenbuterol. Bahwa 11 di antara 60 sampel makanan serupa—yang diambil dari warung di Shanghai, China, tempat mereka makan—terbukti mengandung clenbuterol, ternyata itu tidak menghapus hukuman mereka.
Itu cerita tahun 1999. Pada Agustus tahun lalu, jejak clenbuterol juga tampak pada atlet yang baru pulang dari pertandingan di China. Adalah atlet tenis meja asal Jerman, Dimitrij Ovtcharov, yang terkena getahnya.
Peraih medali perak pada Olimpiade Beijing 2008 itu lantas menuding makanan hotel yang ia santap sebagai biang keladi. ”Beruntung”, urine empat atlet Jerman lain yang berlaga di turnamen yang sama terbukti juga mengandung clenbuterol, tulis kantor berita AP, Senin (24/11).
Ovtcharov tertolong oleh rambutnya yang gelap. Pasalnya, clenbuterol 20 kali lebih terlihat pada mereka yang rambutnya gelap ketimbang yang berambut pirang. Singkat kata, ia pun dinilai tidak curang. Federasi yang menaunginya pun menyatakan atlet ini tidak bersalah.
Namun, tidak demikian dengan Badan Antidoping Dunia (WADA). Lembaga yang satu ini memang terkenal dengan keteguhannya menegakkan aturan sehingga jarang ada kasus doping yang lolos. Dalam kasus yang menimpa Ovtcharov, misalnya, WADA bersikukuh untuk melanjutkan gugatannya ke Pengadilan Arbitrase Olahraga. Alasannya, WADA tidak mau ada preseden terkait ”daging terkontaminasi” yang di kemudian hari bisa dipakai atlet untuk memanipulasi penggunaan clenbuterol.
Pada lingkaran atlet kondang dunia, kasus clenbuterol ini telah menjegal pebalap sepeda Alberto Contador setelah menjalani uji doping di lomba Tour de France tahun lalu. Federasi balap sepeda Spanyol memang belum mengeluarkan keputusan, tetapi para pejabat balap sepeda menduga Contador berbohong bahwa clenbuterol itu ada dalam tubuhnya gara-gara ia makan steak.
Selain Contador, pebalap sepeda China, Li Fuyu, juga terkena kasus serupa sampai ia dipecat dari tim balap Radio Shack yang menaungi pebalap kondang Lance Armstrong. Li dinyatakan positif doping pada balapan di Belgia, Maret tahun lalu. Seperti juga Contador, kandungan clenbuterol dalam tubuhnya amat kecil—0,000000000001 gram per tetes urine—sehingga tak terlihat oleh mata dan tak bisa dicatat oleh timbangan presisi tertinggi yang biasa dipakai ahli kimia sekali pun.
Persis seperti kilah yang diajukan Contador, Li pun bersikeras ia tidak memakai doping dan menuding makanan sebagai penyebabnya. ”(Dari) sejenis daging,” kata Li Fuyu.
Kambing hitam
Tampaknya memang paling mudah mengambinghitamkan daging sebagai penyebab masuknya clenbuterol ke dalam tubuh. Maklum, untuk makanan otot, tentu setiap atlet membutuhkan protein, terutama yang hewani.
Clenbuterol tergolong cepat membakar lemak dan membentuk otot. Itulah kenapa zat doping ini disukai mereka yang ingin memperkuat ototnya, juga oleh para peternak.
Untuk menguji apakah benar daging yang terkontaminasi clenbuterol bisa membuat atlet gagal melewati tes doping, laboratorium antidoping China tahun 2009 membeli sejumlah daging babi. Para pekerja lab pun diminta untuk memakannya. Urine mereka lantas dianalisis. Hasilnya, sebagian gagal. Jadi, andaikata mereka itu atlet, pasti mereka akan masuk dalam kasus doping WADA.
”Kami menemukan, kalau daging atau hati babi amat terkontaminasi, hasil tes kita bisa positif meski tidak selalu,” kata Zhao Jian, Deputi Dirjen Badan Antidoping China, kepada AP. ”Mungkin terjadi, terbukti ilmiah. Anda bisa positif doping dari daging yang terkontaminasi.”
Uji laboratorium itu lantas menjadi dasar bagi lembaga antidoping tersebut untuk mengingatkan atlet-atlet China agar tidak makan sembarangan di luar.
Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah kasus daging yang terkontaminasi itu layak dipertimbangkan untuk ”mengampuni” atlet yang dari hasil laboratorium terbukti ”menggunakan” clenbuterol?
Bak makan buah simalakama. Dimakan mati ibu; tidak dimakan mati bapak. Kalau diberi toleransi, bisa saja ada atlet yang mencoba curang dengan mengakali lubang ini. Sementara itu, jika benar-benar tak ada ampun, bisa-bisa kasus clenbuterol ini menjerat atlet tak bersalah yang terjeblos hanya gara-gara salah makan.
WADA memilih bersikap keras. Tak ada toleransi. Sesedikit apa pun clenbuterol terkandung dalam tubuh atlet, itu sudah cukup untuk mendakwa sebagai positif doping.
Sebaliknya, laboratorium di China dan di Jerman menyarankan untuk memberi sedikit kelonggaran. China, yang melakukan uji doping lebih dari 10.000 kali setiap tahun, menemukan 20 kasus positif clenbuterol dalam tiga tahun terakhir. Namun, sampai saat ini pihaknya belum bisa membuktikan apakah ke-20 kasus itu berasal dari daging atau tidak.
Tampaknya kini atlet dan pelatih benar-benar harus bersikap hati-hati. Pelatih kepala tim tenis meja putri Jerman, Joerg Bitzigeio, sampai harus berkonsultasi dengan laboratorium di Koeln, Jerman, sebelum mengirim tiga pemainnya untuk berlatih dengan tim nasional China.
Saran yang diterima, jangan makan daging, jangan makan segala jenis produk susu dan telur. Sungguh repot (koni)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar