Jumat, 11 Januari 2013

Menjadi Atlet Butuh Komitmen Kuat

Alexis dan kedua orangtuanya

BANDUNG, AKUATIK INDONESIA - Di balik setiap atlet yang berprestasi tinggi, terdapat pendukung yang berkomitmen kuat.

Di kolam renang, kita mengenal Michael Phelps sebagai perenang terbesar sepajang sejarah. Phelps baru saja muundur setelah mampu merebut medali emas di Olimpiade London 2012 lalu.

Namun tidak banyak diungkap bahwa di balik figur Phelps, terdapat Debbie Phelps, ibunya. Sebagai seorang orang tua tunggal, Denbbie mmebesarkan Micahel dan ekdua kaka perempuannya seorang diri setelah ditinggal oleh suaminya. Debbie-lah yang menyadari bahwa di balik sosok ringkih Michael tersimpan potensi yang ternyata terbukti setelah memilih olah raga renang.

Pem,bina yang baik memang tidak harus orang tua memang. Di dunia tenis dikenal kisah hubungan yang unik antara petenis Spanyol, Rafael Nadal dan pamannya, Antonio "Toni" Nadal. Rafael Nadal adalah putera Sebastian, kakak dari Toni. Namun justru Toni-lah yang menyuruh di kecil Rafael saat berusia 12 tahun untuk meninggalkan sepakbola dan fokus pada tenis. Toni pula yang mengajarkan Nadal pukulan bertenaga dengan menggunakan bola-bola bekas.

Ini pula yang dilakukan David Stephen Budiman, seorang pensiunan pegawai bank di Bandung.  Sebagai seorang penggenar olah raga tenis, ia mengajarkan dua puterinya, Joleta dan Jennifer bermain olah raga ini sejak usia dini (5 tahun). "Bagi saya lebih baik mengenalkan olah raga sejak usia dini. Setidaknya badannya sehat," kata David.

Latihan tenis pun dilakukan tidak secara rutin dan lebih hanya sebagai suatu kegiatan di samping sekolah. "Saya memang terobsesi dengan dunia tenis. Sifatnya yang individual bagi saya dapat membentuk karakter yang baik buat seorang anak," ungkapnya.

Namun persoalan menjadi berbeda saat puterinya Joleta mengutarakan keinginannya untuk menjadi petenis profesional. Gadis kelahiran 18 Januari 2000 ini mengatakan ingin bertanding  seperti para petenis idolanya, Maria Sharapova dan Maria Kirilenko. "Saat kelas 6 SD, ia mengutarakan keingiannya untuk total sebagai pemain. Padahal prestasi akademiknya sendiri sangat bagus," ungkap David lagi.

"Saat itu saya tidak merasa ragu-ragu atau khawatir tentang masa depannya sebagai atlet. Saya hanya berpikir kesempatan kedua tidak akan datang, jadi harus diambil saat itu juga," lanjutnya. Üntuk itu saya harus mendukung penuh dan berkomitmen terhadap keputusan anak saya itu."

Dukungan moral dan perhatian tentu saja tidak sulit buat Joleta yang kemudian diikuti adiknya Jennifer. David yang telah purnakarya  memiliki banyak waktu untuk tidak hanya mengawasi anaknya befrlatih namun juga bertidnak sebagai pelatih. Apalagi ia didukung oleh isterinya, Dewi Anggraeni yang juga kerap nongkrong di lapangan tenis setiap hari.

Namun yang lebih berat adalah dukungan finanasial. Üntuk belanja peralatan, makanan dan asupan tambahan untuk dua anak ini kami habis sekitar 8-9 juta rupiah sebulan,"" kata David.  Ia memang menerapkan pola makan yang sangat ketat buat kedua anaknya tersebut. "setiap hari fisik keduanya digenjot dengan lari 9 kilometer, latihan beban di gym serta latihan stroke di lapangan, jadi memang mereka butuh asupan yang baik."

Bukan hanya itu. Untuk kedua puterinya, David dan Dewi Anggareni menerapkan ola hidup yang "semi puritan." Ia membatasi pergaulan anak-anaknya,  tidak memperbolehkan keduanya menggunakan peralatan elektronik seperti smartphone atau pun ponsel. "Bahkan untuk menonton televisi pun, keduanya hanya saya ijinkan menonton ESPN atau Star Sports, khsusu saat menyiarkan pertandingan tenis, "kata David lagi.

Bagi Joleta, pilihan hidup orang tua dan dirinya ini tidak terasa memberatkan. Ia mengaku menyukai atmostfir persaingan dan pertandingan. ""Saya tidak suka kekalahan,  tetapi tidak takut kalah," kata Joleta yang kini memilih homeschooling meski tetap menginduk di SMP Negeri XXII, Bandung.

Dengan tinggi badan 1.72 meter, Joleta memang  menonjol untuk kelompok usianya, 12 tahun.  Dengan terbatasnya pemain di kelompok usianya ini, Joleta kerap  bertanding dengan lawan dari kelompok usia di atasnya.  Desember lalu, Joleta lolos dalam seleksi atlet tenis Jawa Barat untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) remaja yang akan berlangsung April 2013 ini.

Pembagian tugas dilakukan apabila  puteri-puetri ini harus bertanding di luar kota. Biasanya  Joleta dan Jennifer didampingi ibu mereka, Dewi Anggraeni. "Kalau bertanding, biasanya anak butuh sesuatu yang lebih dari sekadar teknik. Nah, di sini biasanya figur ibu bisa lebih masuk untuk mengatasi masalah mereka," kata David lagi.

Seperti yang dialami oleh  Jennifer saat bertanding di ajang  turnamen Sportama di Jakarta. "Ada  pendukung lawan yang meneror dengan menjelek-jelekan anak saya. Dikatakan seperti tante-tante-lah. Kalau begini, biasanya ibunya akan lebih emosional dan meledak-ledak dalam membela. Namun ternyata hal seperti itu kadang jutru dibutuhkan oleh anak."

Namun  dukungan kedua orang tua bukan berarti tak ada batasnya. "Saya memberi waktu tiga tahun buat puteri saya, Joleta. Apalabila ia mampu, ia akan terus mewujudkan impiannya sebagai petenis profesional. Namun bila begitu-begtu saja, saya akan memintanya untuk kembali berkonsentrasi ke bangku sekolah. Danm melupakan tenis."
(Kompas.com )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar