Senin, 14 Januari 2013

Yang Muda, yang Ukir Prestasi


AKUATIK INDONESIA. PON Riau 2012 masih diwarnai kejayaan atlet senior, seperti Dedeh Erawati di atletik, Krisna Bayu di judo. Namun, harapan terbuka akan lahirnya atlet muda potensial, binaan pelatih bertangan dingin, yang bakal jadi penerus. Ke depan, nama mereka yang bakal menghiasi kejuaraan internasional.
Di cabang renang, Ricky Anggawijaya (16) dari Jawa Barat menunjukkan diri sebagai perenang muda yang berbakat. Ricky mampu merebut 1 medali emas di nomor perseorangan dan 2 emas di estafet.
”Saya menemukan bakat Ricky sejak tahun 2000 di klub. Daya apungnya bagus dan sangat mulus saat meluncur di air. Sejak itu saya berpesan ke orangtuanya agar memberi nutrisi yang baik dan kami melatihnya dengan serius,” kata Nizarudin, manajer tim renang Jabar, Selasa (18/9).
Sejak memasuki usia remaja, Ricky dilatih untuk punya daya tahan dan stamina yang baik serta teknik berenang yang benar. Pada SEA Games 2011, Ricky merebut dua perak di renang perairan terbuka di nomor 5.000 meter dan 10.000 meter.
Pada PON Riau 2012, Ricky merebut emas 1.500 meter gaya bebas putra. Ricky akan berlatih intensif menghadapi SEA Games Myanmar 2013. Ia dipersiapkan di nomor menengah.
”Ricky, kami harapkan, dapat meraih medali dari kolam renang meskipun tidak harus emas pada SEA Games 2013. Catatan waktunya saat ini masih menempatkannya di urutan ketiga Asia Tenggara. Namun, jika latihannya intensif, Ricky bakal merebut emas pada SEA Games 2015,” kata Nizarudin.
Di lapangan tembak, Diaz Kusuma Wardani (Jawa Timur) dan Vegy Sepfriani Agipratama (Jawa Barat) adalah dua petembak muda yang menyedot perhatian. Mereka baru 16 tahun, belum lama berlatih, dan langsung menggaet emas.
Diaz, siswi kelas II SMA Negeri 2, Sidoarjo, mengaku baru berlatih menembak tiga tahun lalu. Ia mengenal olahraga ini dari ibunya, Letnan Kolonel Tresna Kusumawati, seorang perwira TNI Angkatan Laut. Dalam seleksi pra-olimpiade di Doha, Qatar, Januari 2012, Diaz mencatat 388 poin di nomor 10 meter senapan angin.
PON Riau 2012 merupakan PON pertama, tetapi ia langsung meraih emas di nomor 10 meter senapan angin yunior putri. ”Saya memang cocok pakai senapan, tetapi ke depan saya mau mencoba pistol,” kata Diaz yang bertekad akan terus menjadi petembak.
Vegy juga baru pertama kali ikut PON dan langsung dapat emas di nomor 10 meter pistol angin yunior putri. Sebelum mengikuti PON di Riau, Vegy menjajal kejuaraan nasional, yaitu Kapolri Cup dan Lely Sampoerna Cup II pada 2011. Dari kejuaraan itu, ia mendapat perak dan perunggu. ”Saya baru berlatih satu tahun dan masih ingin memperbaiki prestasi di tingkat internasional,” katanya.
Vegy merupakan putri Agus Supartono, petembak yang masih aktif membela DKI Jakarta.
Beberapa atlet muda potensial juga terpantau di cabang panahan. Puryoto, Kepala Bidang Pembibitan Pengurus Pusat Persatuan Panahan Indonesia, mengatakan, daerah-daerah dengan atlet muda potensial di antaranya Jatim, Jabar, dan Papua Barat. Beberapa di antaranya Dianandra Chairunnisa dan Yance Iba hingga Asep Wandi dan Sifa Nurafifah Kamal.
Di judo, tidak ada yang menyangka, Peter Taslim, pejudo nasional asal Sumatera Selatan, peraih emas SEA Games 2011 kalah dengan nilai ippon oleh pendatang baru, I Kadek Rananda (17) asal Bali di semifinal kelas 66 kg. Remaja yang baru duduk di kelas III SMA itu kembali menundukkan seniornya Deden Setiadi di final. Kadek terlahir dari keluarga judo. Bapaknya I Kadek Rakyanda adalah pelatih judo Bali. Kakaknya, I Kadek Adiwirawan, juga pejudo. Agaknya, generasi penerus akan terus lahir di banyak cabang. (kompas.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar